Home » Saat Anda Mulai Berfikir Untuk Melanjutkan Studi PhD

ISWADI MTSaat ini saya menjalani akhir tahun ke-3 dalam melaksanakan studi Doctor of Philosophy (PhD). Pada suatu ketika saat memperhatikan sekeliling, perhatian saya tertuju ke mahasiswa PhD baru. Pikiran saya terbayang pada mahasiswa yang berasal dari S1 (Bachelor degree) yang akan terus melanjutkan perkuliahan hingga ke jenjang PhD. Semisalnya, otak mereka masih segar dan semangat masih menyala, namun untuk melanjutkan studi PhD harus menjalani studi master degree atau ada juga yang menjalaninya dengan kondisi setelah bekerja beberapa tahun dengan harapan memperoleh pengalaman serta untung menjadi peneliti yang lebih mandiri. Kemandirian inilah syarat yang sangat dituntut seorang mahasiswa yang melanjutkan kuliah ke jenjang PhD.

Bagi yang berasal dari S1, lalu berkeinginan terus melanjutkan kuliah hingga ke jenjang Ph, mereka masih merasa bahwa supervisor adalah orang yang siap membantu mereka seperti saat mereka S1 dahulu, sehingga ketergantungan ke supervisor akan menjadi lebih tinggi lagi. anda masih harus bersyukur jika supervisor-nya bersedia memperlakukan anda seperti anda S1 dahulu yaitu “disuapkan”. Jika tidak, maka anda akan bermasalah dengan kemandirian, karena mahasiswa PhD memang harus memiliki kemandirian itu.

Dari sekian tantangan yang saya rasakan ketika menjalani awal-awal masa melaksanakan jenjang PhD, hingga sekarang terkadang tantangan itu masih terasa. Tantangan itu seperti bahwa saat apa yang kita teliti tak kunjung membuahkan hasil, maka kita kembali bertanya, betulkah saya ingin melakukan tingkat strata tertinggi ini?. Meninggalkan pekerjaan yang terdahulu, meninggalkan keluarga besar dan meninggalkan tanah air demi pendidikan?. Maka saat itu anda akan merasakan bahwa keputusan melanjutkan ke PhD adalah keputusan yang salah dan melihat orang lain membangun karirnya di dunia pekerjaan di industry, anda akan merasa sesuatu yang lain yang sulit untuk digambarkan.

Sebelum berangkat studi PhD dulu, seorang kawan bertanya ke saya, apakah saya tidak takut atau khawatir jika suatu saat tidak berhasil menyelesaikan studi PhD saya. Saya tidak langsung menjawab pertanyaan itu, konon ini juga metode Akbar Tanjung jika ada orang yang bertanya kepadanya, beliau tidak langsung menjawab dengan tergesa gesa. Lalu, saya katakan kepada kawan tersebut bahwa saya harus bisa menyelesaikan studi saya tersebut dan jikapun nanti takdir mengatakan lain maka setidaknya saya pernah mencobanya, itulah yang saya katakan ke rekan tersebut yang ia sambut dengan doanya agar saya lancar adanya. Sayapun menyahutnya dengan lafadz, aamiin.

Lalu, jika melihat rekan lain baik sesama riset kluster atau rekan lain di bidang ilmu yang lain mulai membuahkan hasil dari penelitiannya berupa publikasi misalnya, maka anda akan merasa, ah anda sudah ketinggalan jauh dan merasa bahwa bidang anda adalah bukan bidang yang layak untuk diteliti karena tidak ada jurnal/berkala yang memilihnya sebagai call for article.

Jika itu yang terjadi, jangan khawatir. Memang seperti itulah riset, terkadang memberikan hasil cepat namun ada juga yang membutuhkan waktu yang lama. Saya ketemu dengan seorang alumni riset kluster saya yang menjadi asisten professor di Abu Dhabi, UAE saat konferensi di Dublin 2 tahun lalu tepatnya di bulan September 2013. Saat melaksanakan studi PhD-nya, beliau menghasilkan 6 konferensi paper dari apa yang ia kerjakan. Empat di antaranya ia tulis sebagai penulis pertama sedangkan dua paper sisanya, ia adalah sebagai penulis pendamping. Baru 4 tahun kemudian di tahun 2015 ia mempublikasikan risetnya di jurnal setelah ia lulus di tahun 2011.

Pembimbing kedua saya, usianya lebih muda dua tahun dari saya. Saat ia melakukan studi PhD-nya ia anak muda yang berusia 20 tahunan sedangkan saya adalah seorang ayah dengan tiga orang anak yang menuju 34 tahunan. Ia adalah tipikal orang yang sedikit melakukan konferensi namun berusaha fokus di jurnal artikel yang akhirnya bisa ia publikasikan. Namun tahukah anda bahwa tiga buah jurnal artikelnya yang lain baru ia publikasikan setelah ia memiliki waktu senggang, yaitu saat ia telah lulus dari studi PhD dan saat ia melakoni studi post doctoralnya di riset cluster yang sama.

Konferensi paper di bidang teknik elektro terutama yang disponsori oleh IEEE, semisal PES GM ataupun PowerTech bukan konferensi main main. Untuk ikut konferensi ini harus melewati meja reviewer. Jika saya reratakan, maka jarak diantara memasukan abstrak, mempersiapkan full paper dan lalu melakukan presentasi di depan orang hebat lainya sampai terindek oleh ieeexplore dan scopus setidaknya membutuhkan waktu selama 6 bulan. Jadi, jika anda lancar lancar saja dalam studi anda, maka selama 3 tahun kemungkin besar anda bisa membawakan enam buah konferensi paper jika menggunakan perhitungan saya dan itu tentunya saat di tahun pertama anda sudah membuahkan hasil dan sudah kerasan untuk menyandang status sebagai mahasiswa PhD.

Agaknya kuliah PhD adalah perjalanan yang panjang namun ia haruslah dinikmati agar tidak menyebabkan hal lain terabaikan. Jika anda bukan tipikal orang yang biasa bekerja belasan jam sehari, maka jika itu sudah waktunya pulang maka pulanglah segera, temui keluarga bagi yang sudah berkeluarga, masak makanan kesukaan bersama istri atau suami anda, hadiri kajian islam di setiap kesempatan yang ada di sela kesibukan PhD anda, dsb. Sampai saat ini saya masih menyempatkan mengajar anak anak untuk mengaji di rumah, masih bermain futsal kesukaan saya tiap pekannya, masih membuat majlis taklim di Belfast dan yang jelas masih membantu istri untuk membereskan pekerjaan rumah tangga yang tak kunjung beres dan membesarkan anak anak kami dengan kasih sayang yang tulus, insyaallah.

Iswadi HR, ST.MT.

Dosen FT UR dan PhD Candidate Queen’s University Belfast, UK

 

About

Lahir 19 Juli 1990 di yogyakarta. sekarang tinggal di Pekanbaru bekerja Sebagai Staff IT di perpustakaan Universitas Riau.

One thought on “Saat Anda Mulai Berfikir Untuk Melanjutkan Studi PhD

  1. terima kasih telah berbagi berita Pak, senang sekali rasanya membaca tulisan2 di blog ini, saya merasa bertambah wawasan semoga selalu di beri kesehatan dan sukses selalu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terkini

IMG_1639 Upacara 17 Hari Bulan Januari 2017, Rektor UR Serahkan SK Kenaikan Pangkat ASN
OLYMPUS DIGITAL CAMERA Pekan Raya Biologi 2017, Wadah Implementasi Keilmuan
Jpeg Shalat Mencegah dari Perbuatan Keji dan Mungkar
IMG_1586 UR-ISDS Laksanakan Dialog Untuk Masyarakat Adat
IMG_20170105_110209 Universitas Riau dan BOB-BSP-Pertamina Hulu Jalin Kerjasama

Informasi

Cari berita pada tanggal

January 2017
S M T W T F S
« Dec    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pengunjung

Flag Counter
 

Arsip berita

Redaksi

Penasehat : Prof. Dr. Aras Mulyadi, DEA
Pengarah : Prof. Dr. Thamrin, M.Sc | Prof. Dr. Sujianto, M.Si | Dr. Syafrial, M.Pd | Prof. Dr. Mashadi, M.Si Penanggung Jawab : Ahyat, SE
Pimpinan Umum : Aurida Aman, S.Pd., M.Pd Pimpinan Redaksi : Rioni Imron, S.Sos., M.I.Kom
Koordinator Online : Agus Sutikno, SP., M.Si Data dan Informasi : M. Arsyad, S.kom., M.Si
Reporter :Retno Dewi | Mukmini Rahman, S.I.Kom | Wendi Kurniawan, S.I.Kom | Rabit Zanurman, S.I.Kom | Muhammad Rizqi, SE | Tika V Mutia, S.I.Kom., M.I.Kom | Turiman Publisher : Yasin Setiawan, S.Kom | Anton Yuliarto, S.Kom

Alamat Redaksi

URNews
Kampus Bina Widya Km. 12,5 Simpang Baru Pekanbaru 28293 Email: urnews@unri.ac.id
Website: www.urnews.unri.ac.id